Dari Piagam Jakarta hingga Peletak Revolusi Pesantren

Seabad KH. A. Wahid Hasyim

Salah satu isu kontroversial yang menjadi bahan perdebatan dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 28 Mei -1 Juni 1945 dan 10-17 Juli 1945 adalah negara dan agama.

Dan diantara tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang masuk dalam daftar sub komite BPUPKI adalah KH. Abdul Wahid Hasyim, ayahanda KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Putra laki-laki pertama dan anak kelima dari sepuluh bersaudara tokoh Pendiri NU ini sangat berperan penting dalam terciptanya rumusan piagam jakarta.

Namun, sikap kenegarawanan kyai Wahid menerima kompromi dalam perdebatan soal dimasukkannya tujuh kata dalam Piagam Jakarta, menjadi penanda penting bahwa warisan tokoh ini terhadap Indonesia sebagai negara bangsa. “Wahid meninggalkan jejak besar bagi republik ini dengan bersedia menyatakan kalau konsensus sudah diterima semua pihak, maka harus diterima dengan lapang dada. Bagi putra KH. Hasyim Asy’ari ini, Indonesia bisa menjadi bangsa yang religius tanpa memaksakan satu agama pun menjadi dasar negara,” tegas Direktur Reform Institute Yudi Latif pada acara launching dan bedah buku Satu Abad KH Abdul Wahid Hasjim karya Aboebakar Atjeh, di Auditorium Kementrian Agama Jalan MH. Thamrin Jakarta, Sabtu (30/4), seperti ditulis Kompas, Minggu (1/5).

Acara tersebut menjadi salah satu rangkaian dari peringatan satu abad KH. Abdul Wahid Hasyim yang lahir pada bulan Juni 1914 di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Salah satu Ketua Panitia Pusat Aisyah Hamid Baidhowi yang juga putri dari KH. Wahid Hasyim mengatakan, peringatan digelar dalam berbagai agenda, mulai dari seminar, diskusi ilmiah hingga pengajian umum. “Kita memang mengagendakan acara di berbagai kota,” tutur adik kandung KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, seperti diberitakan NUonline, Senin (11/4) lalu.

Terpikat gadis pembawa ember

Sekira pada tahun 1930-an, sosok Wahid Hasyim dikenal sebagai seorang perjaka yang paling diminati di Jombang, sebuah kabupaten di Jawa Timur. Dari pengakuan almarhum Gus Dur dalam buku Biografi Gus Dur (2003) ada cerita menarik yang mengawali bagaimana sosok Wahid Hasyim menjatuhkan pilihan pendamping hidupnya.

Pada suatu hari, pada tahun 1930, Wahid, yang ketika itu berusia 29 tahun, menghadiri upacara perkawinan seorang sanak saudaranya. Namun, di sana perhatiannya tercuri oleh seorang gadis muda berpakaian biasa yang sedang membawa seember air untuk mencuci piring di dapur, jauh di balik suasana pesta di depan. Dialah Solichah, putri dari KH. Bisri Sansuri. Keesokan harinya, Wahid kemudian menemui kiai Bisri untuk melamar Solichah.

Revolusi Pendidikan Pesantren

Selain Gus Dur, mantan Menteri Agama Tolchah Hasan juga mempunyai pengalaman tentang sosok Wahid Hasyim. Tahun 1950-an, ketika menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Tolchah Hasan kaget mendapat pelajaran bahasa Perancis. Saat itu, Pondok Pesantren di asuh oleh KH. Wahid Hasyim. Menurut Tolchah, keterkejutannya bertambah saat mengetahui sebagian guru yang mengajarinya ilmu pengetahuan umum beragama Kristen dan Katolik.

“Saya kira, pada zamannya ada yang seperti itu sesuatu yang langka. Guru ilmu alam saya orang Kristen. Saya di (madrasah) Aliyah A, yang dapat pelajaran bahasa Arab, Inggris, dan Perancis. Meski sekarang saya enggak bisa lagi ngomong dengan bahasa Perancis,” ujar Tolchah terkekeh, seperti diberitakan Kompas, Minggu (1/5).

Wahid juga dianggap sebagai peletak dasar revolusi pendidikan di pesantren. Revolusi itu mulai dilakukan sepulang Wahid dari Mekkah, akhir tahun 1933. Menukil buku itu, Wahid yang ketika itu baru berusia 19 tahun mulai memimpin dan mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan ayahandanya.

Di buku ditulis, hasrat Wahid mengadakan revolusi pendidikan di pesantren mulai tampak. Cara kuno yang hanya terdiri dari mendengar dan menggantungkan makna pada kitab- kitab fikih Islam sudah mulai ditinjau kembali oleh Wahid. Niatnya merevolusi dunia pendidikan di pesantren didasari keinginan agar para santri tidak lebih rendah kedudukannya dalam masyarakat yang belajar pengetahuan Barat ketika itu. Kekurangan santri ketika itu hanya ilmu pengetahuan umum.

Kemudian, Aboebakar juga menuliskan, Wahid berpegang pada salah satu hadis, barang siapa mengetahui bahasa sesuatu golongan, ia akan aman dari perkosaan golongan itu. Hingga suatu ketika Wahid melihat anak-anak didiknya, ia tersenyum sambil berkata, “Mudah-mudahan kamu sekalian di masa yang akan datang menjadi calon kiai intelek, yang dapat mengangkat derajat golonganmu.” (halaman 172). Sumber

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: