Arsip Bulanan: Desember 2009

Gus Durku, Bung Karnoku, Selamat Jalan…

Oleh: Yahya C. Staquf • 31 Desember 2009 jam 2:41

Ini kehilangan tak terperi. Tapi diam-diam aku merasakannya seperti formalitas saja. Ketuk palu atas sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya. Kehilangan yang sesungguhnya telah terjadi dua belas tahun yang lalu, ketika suatu hari kamar mandi kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), di Kramat Raya Jakarta, tak kunjung terbuka. Kamar mandi itu terkunci dari dalam dan Gus Dur ada didalamnya. Orang-orang menggedor-gedor pintu, tak ada sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur tergeletak bersimbah darah muntahannya sendiri. Itulah strokenya yang pertama dan paling dahsyat, yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan fisiknya.

Sebelum malapetaka itu, Gus Dur adalah sosok “pendekar” yang nyaris tak terkalahkan. Pada waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Tapi ketika akhirnya memperoleh kesempatan menakhodai bangsa ini, keruntuhan fisik telah membelenggu beliau sedemikian rupa sehingga gelombang pertempuran yang terlampau berat pun menggerusnya. Aku tak pernah berhenti percaya bahwa seandainya yang menjadi presiden waktu itu adalah Gus Dur sebelum sakit, pastilah hari ini Indonesia sudah punya wajah yang berbeda, wajah yang lebih cerah dan lebih bersinar harapannya.

Aku telah menjadi pengagum berat Gus Dur dan mendaulat diriku sendiri sebagai murid beliau sejak aku masih remaja. Tapi memang Gus Dur telampau besar untukku, sehingga aku tak pernah mampu menangkap secuil pemahaman yang berarti dari ilmunya, kecuali senantiasa terlongong-longong takjub oleh gagasan-gagasan dan tindakan-tindakannya.

Ketika datang kesempatan bagiku untuk benar-benar mendekat secara fisik dengan tokoh idolaku, yaitu saat aku ditunjuk sebagai salah seorang juru bicara presiden, saat itulah pengalaman-pengalaman besar kualami. Bukan karena aku melompat dari santri kendil menjadi pejabat negara. Bukan sorot kamera para wartawan, bukan pula ta’dhim pegawai-pegawai negeri. Tapi inspirasi-inspirasi yang berebutan menjubeli kepala dan dadaku dari penglihatanku atas langkah-langkah presidenku.

Sungguh, langkah-langkah Presiden Gus Dur waktu itu mengingatkanku kembali pada kitab DBR (Dibawah Bendera Revolusi) yang kukhatamkan sewaktu kelas satu SMP dulu. Mengingatkanku pada “Nawaksara”, mengingatkanku pada “Revolusi belum selesai!”

Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang dalam pandangan umum dianggap kurang relevan dengan kepentingan Indonesia. Namun aku justru melihat daftar negara-negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika. Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika. Venezuela mengipor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus –persen rempah-rempah kita kesana. Maka presidenku menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita. Gus Dur mengusulkan kepada Sultan Hasanal Bolkiah untuk membangun Islamic Financial Center di Brunaei Darussalam, lalu melobi negara-negara Timur Tengah untuk mengalihkan duit mereka dari bank-bank di Singapura kesana…

Barangkali pikiranku melompat serampangan. Tapi sungguh yang terbetik dibenakku waktu itu adalah bahwa Gus Dur, presidenku, sedang menmpuh jalan menuju cakrawala yang dicita-citakan pendahulunya, Pemimpin Besarku, Bung Karno. Yaitu mengejar kemerdekaan yang bukan hanya label, tapi kemerdekaan hakiki bagi manusia-manusia Indonesia. Yaitu bahwa masalah-masalah bangsa ini hanya bisa dituntaskan apabila berbagai ketidakadilan dalam tata dunia yang mapan pun dapat diatasi. Yaitu bahwa dalam perjuangan semesta itu harus tergalang kerjasama diantara bangsa-bangsa tertindas menghadapi bangsa-bangsa penindas.

Hanya saja, Gus Dur mengikhtiarkan perjuangan itu dengan caranya sendiri. Bukan dengan agitasi politik, bukan dengan machtsforming, tapi dengan langkah-langkah taktis yang substansial, cara-cara yang selama karir politiknya sendiri memang menjadi andalannya. Yang bagi banyak orang terlihat sebagai kontroversi, bagiku adalah cara cerdik beliau menyiasati pertarungan melawan kekuatan-kekuatan besar, baik didalam negeri maupun diluar negeri, yang terlampau berat untuk ditabrak secara langsung dan terang-terangan. Gus Dur terhadap Bung Karno, bagiku layaknya Deng Xiao Ping terhadap Mao Tse Tung.

Tapi pahlawanku bertempur ditengah sakit, seperti Panglima Besar Soedirman di hutan-hutan gerilyanya. Maka nasib Diponegoro pun dicicipinya pula…

Banyak orang belakangan bertanya-tanya, mengapa orang tua yang sakit-sakitan itu tak mau berhenti saja, beristirahat menghemat umurnya, ketimbang ngotot seolah terus-menerus mencari-cari posisi ditengah silang-sengkarut dunia yang kian semrawut saja. Saksikanlah, wahai bangsaku, inilah orang yang terlalu mencintaimu, sehingga tak tahan walau sedetik pun meninggalkanmu. Inilah orang yang begitu yakin dan determined akan cita-citanya, sehingga rasa sakit macam apa pun tak akan bisa menghentikannya. Selama napas masih hilir-mudik di paru-parunya, selama detak masih berdenyut di jantungnya, selama hayat masih dikandung badannya.

Kini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyelimutkan kasih sayang paripurnanya untuk hambaNya yang mulia itu. Memperbolehkannya beristirahat dari dunia tempat ia mengais bekal akhiratnya. Semoga sesudah ini segera tercurah pula kasih sayang Allah untuk bangsa yang amat dicintainya ini, agar dapat beristirahat dari silang-sengkarut nestapa rakyatnya. Gus Durku, Bung Karnoku… Selamat jalan….

Sumber : http://nahdliyin.net/catatan/staquf/gus-durku-bung-karnoku-selamat-jalan

Pemberitahuan UAS Gasal 2009-2010

Kepada Yth.

Bapak/Ibu Wali Murid Kelas I – VI

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Berkaitan dengan pelaksanaan Ujian Akhir Semester Gasal Tahun Pelajaran 2009/2010, bersama ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

  • Biaya pelaksanaan Ujian Akhir Semester Gasal

Keterangan

Kelas I Kelas II – VI
  • Pembuatan naskah soal dan operasional
Rp. 9.250 Rp. 9.250
  • Pembuatan Raport
Rp. 4.000 Rp. 4.000
  • K3MI kecamatan
Rp. 500 Rp. 500
  • PPAI
Rp. 250 Rp. 250
  • Map Raport
Rp. 3000

Jumlah

Rp. 17.000 Rp. 14.000
  • Siswa yang berhak mengikuti ujian semester harus memenuhi ketentuan: melunasi donatur s.d bulan Desember 2009, melunasi pembayaran buku, seragam, daftar ulang (bila belum).
  • Pemenuhan biaya administrasi paling lambat tanggal 2 Januari 2010
  • Jadwal Ujian Semester Gasal 2009/2010 (klik disini)
  • Penerimaan Raport Semester Gasal : 23 Januari 2010

Demikian surat pemberitahuan ini, atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Mengetahui

Kepala MII Alwathaniyah

Abd. Fattah.S.S

Ketua Panitia

Ujian Semester Gasal 2009/2010

Miftachul Ilmiyah, S.Pd.I.

10 Tips Menghadapi Ujian

Tidak terasa waktu begitu cepat bergulir, dan sebentar lagi ujian sudah di depan mata. Yach…Ujian Nasional memang sebuah pertarungan yang menentukan masa depan pendidikan kita semua. Bukan rahasia umum lagi ujian yang satu ini sangat menyita waktu kita dalam mempersiapkan seluruh materi yang nantinya diujikan.

Persiapan untuk menghadapi ujian itu hal yang paling penting untuk menentukan kesiapan dalam mengerjakan semua soal yang ada. Tetapi bagaimana kelanjutannya, maksudnya proses pengerjaan pada saat ujian . Nah,… berikut ini ada 10 tips yang sangat membantu kamu dalam mengerjakan ujian tersebut.

  • Datanglah dengan persiapan yang matang dan lebih awal.
    Bawalah semua alat tulis yang kamu butuhkan, seperti pensil, pulpen, kalkulator, kamus, jam (tangan), penghapus, tip ex, penggaris, dan lain-lainnya. Perlengkapan ini akan membantumu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian.
  • Tenang dan percaya diri.
    Ingatkan dirimu bahwa kamu sudah siap sedia dan akan mengerjakan ujian dengan baik.
  • Bersantailah tapi waspada.
    Pilihlah kursi atau tempat yang nyaman untuk mengerjakan ujian. Pastikan kamu mendapatkan tempat yang cukup untuk mengerjakannya. Pertahankan posisi duduk tegak.
  • Preview soal-soal ujianmu dulu (bila ujian memiliki waktu tidak terbatas)
    Luangkan 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata-kata kunci dan putuskan berapa waktu yang diperlukan untuk menjawab masing-masing soal. Rencanakan untuk mengerjakan soal yang mudah dulu, baru soal yang tersulit. Ketika kamu membaca soal-soal, catat juga ide-ide yang muncul yang akan digunakan sebagai jawaban.
  • Jawab soal-soal ujian secara strategis.
    Mulai dengan menjawab pertanyaan mudah yang kamu ketahui, kemudian dengan soal-soal yang memiliki nilai tertinggi. Pertanyaan terakhir yang seharusnya kamu kerjakan adalah:
    • soal paling sulit
    • yang membutuhkan waktu lama untuk menulis jawabannya
    • memiliki nilai terkecil
  • Ketika mengerjakan soal-soal pilihan ganda, ketahuilah jawaban yang harus dipilih/ditebak.
    Mula-mulai, abaikan jawaban yang kamu tahu salah. Tebaklah selalu suatu pilihan jawaban ketika tidak ada hukuman pengurangan nilai, atau ketika tidak ada pilihan jawaban yang dapat kamu abaikan. Jangan menebak suatu pilihan jawaban ketika kamu tidak mengetahui secara pasti dan ketika hukuman pengurangan nilai digunakan. Karena pilihan pertama akan jawabanmu biasanya benar, jangan menggantinya kecuali bila kamu yakin akan koreksi yang kamu lakukan.
  • Ketika mengerjakan soal ujian esai, pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis.
    Buat kerangka jawaban singkat untuk esai dengan mencatat dulu beberapa ide yang ingin kamu tulis. Kemudian nomori ide-ide tersebut untuk mengurutkan mana yang hendak kamu diskusikan dulu.
  • Ketika mengerjakan soal ujian esai, jawab langsung poin utamanya.
    Tulis kalimat pokokmu pada kalimat pertama. Gunakan paragraf pertama sebagai overview esaimu. Gunakan paragraf-paragraf selanjutnya untuk mendiskusikan poin-poin utama secara mendetil. Dukung poinmu dengan informasi spesifik, contoh, atau kutipan dari bacaan atau catatanmu.
  • Sisihkan 10% waktumu untuk memeriksa ulang jawabanmu.
    Periksa jawabanmu; hindari keinginan untuk segera meninggalkan kelas segera setelah kamu menjawab semua soal-soal ujian. Periksa lagi bahwa kamu telah menyelesaikan semua pertanyaan. Baca ulang jawabanmu untuk memeriksa ejaan, struktur bahasa dan tanda baca. Untuk jawaban matematika, periksa bila ada kecerobohan (misalnya salah meletakkan desimal). Bandingkan jawaban matematikamu yang sebenarnya dengan penghitungan ringkas.
  • Analisa hasil ujianmu.
    Setiap ujian dapat membantumu dalam mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya. Putuskan strategi mana yang sesuai denganmu. Tentukan strategi mana yang tidak berhasil dan ubahlah. Gunakan kertas ujian sebelumnya ketika belajar untuk ujian akhir.

    Sumber dari www.studygs.net/indon/tsttak1.htm

Alhamdulillah Juara 1 UKS lagi

Tiwisada MI Islamiyah Alwathaniyah

Tiwisada MI Islamiyah Alwathaniyah

Ini suatu berita yang sangat menggembirakan bagi kami, karna beberapa waktu lalu kami mendapatkan telepon dari Puskesmas Bareng bahwa sekolahan kami mendapatkan juara 1 Lomba UKS tingkat MI se Kabupaten Jombang. Sungguh kami tidak menyangka, karena dengan persiapan yang begitu singkat hanya sekitar 1 minggu kami melakukan berbagai pembenahan infrastruktur dan perapian administrasi.

Mengulang sejarah 4 tahun yang lalu, kami juga mendapatkan Juara 1 UKS tingkat Kabupaten sebelum akhirnya memenangkan Juara 1 UKS tingkat Propinsi. Sayangnya pada tahun ini sekolahan kami tidak bisa mengikuti lomba ke tingkat yang lebih tinggi yakni propinsi karna terbatasnya anggaran dan saat ini sekolahan kami sedang dalam proses rehabilitasi pembangunan yang tidak mungkin selesai dalam waktu singkat.

Mudah-mudahan pada tahun mendatang MIIW dapat mengikuti Lomba UKS ke tingkat yang lebih tinggi dan yang terpenting dapat mempertahankan gelar sebagai sekolah sehat, sehat dalam kepribadian maupun penampilan. Mari bersama kita tanamkan hidup sehat kepada generasi penerus bangsa ini.

Manasik Haji 09

Labbaik Allahumma Labbaik…, begitu indahnya doa talbiyah tersebut dilantunkan oleh para santri MI Islamiyah Alwathaniyah ketika melaksanakan Manasik Haji. Alhamdulillah tahun ini kami masih bisa melaksanakan rangkaian kegiatan Idul Adha 1430 H. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan Idul Adha tahun ini berlangsung lancar. Kegiatan ini diketuai oleh P. Afandik Nofianto, S.Pd. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh para warga MIIW, mulai dari latihan hingga pelaksanaan manasik haji.

Acara rangkaian Idul Adha ini berlangsung 2 hari, yaitu Jumat – Sabtu tanggal 27 – 28 Nopember 2009. Kegiatan pada hari pertama adalah pemotongan hewan qurban. Alhamdulillah tahun ini sebanyak 5 kambing yang diqurbankan.  Para pequrban tahun ini antara lain; B isna, B Min, P Kadi, B Shof, dan Ananda Indra Kelas IV. Semoga para pequrban selalu mendapat rahmat Allah Swt. Amin. Kegiatan pada hari kedua adalah manasik haji. Diikuti oleh seluruh santri MIIW, kegiatan manasik haji berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Meskipun cuaca pada saat itu sangat panas, namun dengan semangat sekali para santri dan ustadz-ustadzah pendamping  melakukan seluruh rangkaian ritual manasik haji. Setelah manasik haji, acara yang ditunggu-tunggu para santri akhirnya tiba, yakni makan bersama.

Semoga kita semua mendapat ridho Allah Swt. sehingga dapat melaksanakan Haji yang sebenarnya. Amin.. Berikut adalah gambar para calon Jamaah Haji yang sedang melaksanakan manasik haji. Insya Allah. :D (Fendik)

View full album