Mencetak Generasi Berkualitas di Era Multimedia

Mencetak Generasi Berkualitas di Era Multimedia

Oleh : Luluk Uswatun H., S.Pd.

Percayakah Anda, bahwa kasih sayang bisa menghancurkan masa depan seorang anak? Menurut sebuah penelitian, 70% dari orang tua ternyata tak berhasil dalam mendidik anaknya. Penyebabnya adalah justru terletak pada kasih sayangnya yang berlebihan. Maka janganlah sembarangan dalam menuangkan kasih sayang kepada seorang anak, sebab sanjungan yang berlebihan kepada anak hanya akan menjadi bumerang baginya. Tak sedikit masa depan anak hancur karena terbiasa bermanja-manja ria dengan segala fasilitas yang dimiliki orang tuanya.

Dari pendidikan masa kecil yang salah inilah, kelak akan menumbuhkan seorang pemuda yang salah kaprah. Dia akan lebih suka mendompleng pada kesuksesan orang tuanya, membangga-banggakan status sosial, atribut, kejayaan, kemewahan serta keberhasilan orang tuanya. Hal itulah yang justru akan menenggelamkan potensi dan kehilangan jati dirinya, sehingga dia tak mampu berbuat apa-apa. Padahal sejatinya pemuda itu haruslah sanggup tampil ke permukaan dan meraih kesuksesannya sendiri melebihi apa yang pernah diraih orang tuanya.

Sayyidina Ali karramallhuwajhah, pernah menuturkan ‘Bukanlah pemuda, seseorang yang mengatakan inilah bapakku, tetapi pemuda adalah yang berani mengatakan, inilah aku.’

Dalam hadits Rasulullah SAW: “Bekalilah anak-anakmu dengan iman dan ilmu pengetahuan. Sebab mereka adalah generasi yang akan hidup di suatu masa, yang era itu sangat berbeda denga era kamu sekarang.” Dan orang tua wajib menuntun anaknya pada jalan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhiratnya.

Generasi yang lahir dan hidup di era multimedia harus membekali diri dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Mulai dari belajar menggunakan berbagai alat-alat berteknologi modern sampai penggunaan sumber-sumber informasi dan komunikasi yang terbentang luas di berbagai media secara global.

Untuk melahirkan generasi yang ideal, maka harus diciptakan terlebih dahulu lingkungan yang bisa mendewasakan kepribadiannya. Sehingga akan tumbuh sikap percaya dirinya, tanpa pernah dibayang-bayangi kejayaan orang tuanya. Terpenting lagi, menanamkan keyakinan (iman dan takwa) yang kuat serta akhlaqul karimah pada jiwa mereka. Mendidik mereka bagaimana seharusnya menghormati orang tuanya, gurunya, menghormati orang yang lebih tua, apapun status orang tersebut, kaya ataupun miskin. “Bukanlah termasuk golonganku, siapa yang tidak sayang kepada yang muda dan tidak hormat pada yang lebih tua,” sabda Rasulullah SAW.

Generasi muslim yang berkualitas tidak hanya mampu menjawab tantangan zaman dengan Iptek (ilmu pengetahuan & teknologi), tetapi juga dengan Imtaq (iman & taqwa). Selain memiliki kecerdasan intelektual, generasi Muslim juga harus memiliki kecerdasan emosional dan spiritual. Sehingga terciptalah pribadi Muslim yang kaffah (sempurna).

Dalam konteks ke-Indonesiaan, penyematan jiwa nasionalisme di dada para pemuda harus dilakukan sejak dini, sebab kepada merekalah masa depan negeri ini kita titipkan. Dari pribadi muslim yang kaffah, maka akan lahir sosok pemimpin negeri ini yang agamis, berkompeten dan bertanggung jawab.

Wallahu a’lam bish-shawab!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: