Dampak Perilaku Sosial Pencarian Lailatul Qadar

Oleh : Khoirul Hasyim, M.Pd.

Fenomena Ramadhan tidak akan ada habisnya untuk dikaji dan dipahami maknanya. Ketertarikan tersebut bukanlah semata-mata karena Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dimana setiap muslim yang beriman terpanggil untuk mengabdi secara penuh dalam rangka pemenuhan fungsi kehambaannya. Sehingga berbagai kebaikan dalam rangka ibadah menjadi fenomena luar biasa yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Namun dibalik itu, banyak hal-hal yang tak tersentuh sebagai akibat dari keberadaan bulan yang mulia itu.

Salah satunya adalah dampak lailatul qadar. Dimana momen tersebut merupakan momen “emas” yang dicari dan ditunggu. Bukan hal yang mustahil mengapa demikian, karena pada malam itulah segala kemewahan ditawarkan oleh Allah SWT kepada mereka yang mendapatkannya. Tak ayal lagi, geliat pengembaraan spiritual dijalankan sekencang-kencangnya oleh para pencari lailatul qadar. Segala daya diupayakan untuk meraih dan mendapatkan “kesempatan emas” yang langka ini. I’tikaf yang jarang ditemui di hari-hari biasa bahkan di awal Ramadhan menjadi prioritas di penghujung bulan agung tersebut.

Jika ditelaah lebih jauh, kesemuanya itu memang merupakan bentuk kebaikan sebagai konsekuensi predikat keberimanan seseorang. Namun, sudahkah dicermati apa yang sebenarnya terpesankan dari lailatul qadar itu? Sudah menjadi rahasia umum bahwa lailatul qadar turun di penghujung Bulan Ramadhan. Tetapi tidak satupun yang menyatakan waktu tepatnya. Hal tersebut dikarenakan banyaknya ragam pendapat yang menyatakan waktu lailatul qadar. Dari yang sederhana ini (waktu tepatnya lailatul qadar) sebenarnya tersirat sebuah makna pencarian. Yaitu usaha yang melibatkan keseriusan, dan ketahanan dalam manjalaninya.

Seseorang yang serius dalam penghambaannya tentu akan mencurahkan segala amal saleh yang diperbuat bukan untuk sesiapa kecuali hanya kepada-Nya. Tentunya hal ini akan berdampak terhadap segala perilaku sosialnya. Tidak akan muncul adanya sikap menjilat kepada atasan, berbagi parsel lebaran demi mempertahankan jabatan dan sebagainya. Dikarenakan seseorang tersebut sudah lepas dari segala penghambaan kepada selain-Nya.

Sedangkan ketahanan dalam pencarian lailatul qadar adalah sebuah proses dimana seseorang mampu bersikap tegas terhadap tujuan penghambaannya. Tegas dalam arti mempunyai prinsip dan ketahanan diri yang kuat terhadap misi dari dihadirkannya seorang hamba dimuka bumi ini, yaitu beribadah kepada-Nya. Maka seseorang yang telah berlaku demikian, dalam kehidupan sosialnya akan menjalani peran apa saja yang melekat di dirinya dengan tulus tanpa harus menimbang-nimbang untung rugi. Jika ia bekerja maka maka tidak ada lagi perilaku mencuri-curi waktu, lari dari tanggung jawab yang diembannnya, menyelewengkan kekuasaan yang diamanatkan kepadanya, serta melakukan korupsi dalam bentuk apapun. Karena seseorang tersebut telah terdidik untuk berlaku lurus dan bertahan pada jalur mulia yang dipilihnya.

Kelebihan lain yang tersematkan pada lailatul qadar adalah “iming-iming” pahala secara besar-besaran yang tidak sebanding dengan umur manusia pada umumnya. Artinya jika seseorang tersebut melakukan sebuah amal kebaikan pada lailatul qadar maka pahala yang didapatkannya akan berlipat ganda. Kalau ditelaah lagi, bukankah hal ini merupakan sindiran luar biasa yang dialamatkan kepada manusia? Jika pencarian lailatul qadar hanya disebabkan karena berlipat gandanya pahala yang akan didapatkan, tidakkah itu menunjukkan kerakusan? Walaupun kerakusan itu masih dalam koridor yang baik, yaitu mendapatkan nilai ibadah.

Semestinya dampak dari “iming-iming” pahala yang berlipat ganda itu bukanlah sebuah keinginan melakukan ibadah dengan menggebu-gebu karena nilainya, melainkan kesempatan yang ditawarkan oleh lailatul qadar tersebut. Dimana seseorang akan terus berupaya memanfaatkan peluang yang ada dengan sebaik-baiknya. Terlepas apakah ia akan mendapatkan nilai plus atau tidak. Tetapi, ada usaha yang terus-menerus dalam melakukan perbaikan dalam penghambaannya. Jika demikian adanya maka seseorang tersebut akan mampu tampil istimewa dalam kehidupan sosialnya. Dengan kontinyu ia akan meningkatkan kapasitas dirinya menjadi lebih baik dalam persaingan kehidupan.  Tidak ada lagi upaya-upaya untuk merusak tatanan kehidupan sosial melalui hasut, fitnah, dan perilaku menyimpang sebagai wujud ketertinggalannya. Pertemuan dengan lailatul qadar boleh jadi merupakan sebuah rahasia ilahi, namun yang terpenting adalah bagaimana memahami dan merealisasikan makna dari sebuah proses pencarian lailatul qadar pada kehidupan sosial. Karena selain sebagai “abdullah” seseorang diciptakan juga sebagai “khalifatullah”. Wallahu a’lam  bishshowab

Iklan

2 thoughts on “Dampak Perilaku Sosial Pencarian Lailatul Qadar

  1. miislamiyahkalilandak September 6, 2010 pukul 1:53 am Reply

    nice post?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: