Bercermin Pada Metafora Bunga

Tak ada seorang pun yang tidak mengenal bunga dan menyukainya. Sejak dahulu hingga sekarang, banyak orang mengenalnya sebagai lambang kelembutan, kecantikan, kasih sayang, dan lainnya. Hingga banyak judul lagu yang dihasilkan para penggubah, bersumber dari bunga. Misalnya, “Melati di Tapal Batas”, “Melati dari Jaya Giri”, “Bunga Seroja”, “Sekuntum Mawar Merah”, dan “Bunga Nirwana”.

Sayangnya, orang hanya mengenal bunga dari sisi keindahan, kelembutan, aroma yang ditebarkan, dan nilai ekonomi yang relatif tinggi. Padahal, bunga mengandung manfaat lain yang luar biasa, yaitu metafora agung yang sarat nilai untuk dijadikan pedoman dalam mengarungi biduk kehidupan.

Allah berfirman dalam QS Ali Imran [3]: 191, “… (seraya berkata), ‘Ya, tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”

Berikut beberapa nilai kehidupan pada bunga itu. Pertama, bunga selalu memberikan manfaat buat banyak orang. Ia memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Itu dibuktikan dengan pasar bunga dan toko bunga yang tak pernah sepi. Tak hanya orang, kupu-kupu pun senantiasa menari kegirangan ketika hinggap menghisap madunya.

Kedua, bunga selalu siap menyapa siapa pun dalam setiap keadaan. Mulai dari keadaan suka saat pesta pernikahan sampai keadaan duka dalam suasana kematian. Ketiga, bunga selalu menebarkan aroma wangi dan menyegarkan siapa pun. Kendati suatu saat ia dicampakkan, bunga tetap saja konsisten dan istikamah menebarkan wanginya sampai batas akhir kekuatannya.

Keempat, bunga rela mekar sekalipun untuk layu dan siap digantikan dengan generasi bunga segar berikutnya. Demikian antara lain metafora bunga yang tak pernah bosan menawarkan arahan kebijakan dalam berkehidupan.

Metafora bunga sudah seharusnya diteladani. Setiap orang harus selalu memberikan manfaat bagi orang lain sekecil apa pun. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling baik adalah orang yang panjang umurnya dan banyak memberikan manfaat (hasuna ‘amaluh). Sebaliknya, orang yang paling buruk adalah orang panjang umurnya dan buruk perilakunya (sa’a ‘amaluh).

Pelajaran yang diajarkan bunga menyadarkan kita untuk siap digantikan oleh yang lain dan baru dengan aromanya yang lebih wangi. Regenerasi dan kaderisasi harus berlanjut secara cepat. Kader-kader muda yang mumpuni harus dihargai dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mendarmabaktikan dirinya dalam memajukan masyarakat dan bangsa. Sebab, jika kerakusan berkuasa terus berlanjut, berarti ia takabur dengan dirinya dan menutup rapat roda perputaran generasi berikutnya. Walhasil, seharusnya memang siapa pun layak banyak belajar dari kehidupan sang bunga. Wallahualam.

Sumber : http://www.republika.co.id/

8 thoughts on “Bercermin Pada Metafora Bunga

  1. TuSuda Oktober 19, 2010 pukul 9:00 am Reply

    semerbak harumnya bunga akan tercium abadi seoanjang masa, maka hal yang baik harus diteladani sepanjang hayat..kira-kira begitu ya..
    SALAM KENAL dari KEndari…TERIMAKASIH telah berkunjung ke blog sederhana tusuda. SALAM… 8)

    • TuSuda Oktober 19, 2010 pukul 9:01 am Reply

      BTW, tentang poster Tumbuhkan Budaya Malu semoga bisa menjadi INSPIRASI kita semuanya…
      SALAM…

      • alwathaniyah Oktober 19, 2010 pukul 9:26 am

        Iya pak.. Budaya Malu sewajarnya diterapkan sejak dini..🙂 Anak-anak saya akan segera saya kasih tau.. makasih kunjungannya…

    • alwathaniyah Oktober 19, 2010 pukul 9:29 am Reply

      Ya pak, istikomah saja untuk selalu berbuat baik seperti wanginya bunga yang selalu mengharumkan sekitarnya.. Salam kenal juga pak dari Jombang..

  2. budies Oktober 20, 2010 pukul 10:15 am Reply

    segala apa yang disediakan di langit dan bumi ini bisa menjadi bahan pelajara bagi kita yang berpikir, saya senang sekali membaca renungan tentang bunga ini
    salam dari kalimantan tengah

    • alwathaniyah Oktober 20, 2010 pukul 11:44 am Reply

      Subhanallah… makasih pak budi..

  3. sawali tuhusetya Oktober 29, 2010 pukul 6:05 pm Reply

    subhanallah, demikian besarnya keagungan Tuhan. bunga pun bisa dijadikan sbg metafor kehidupan.

    • alwathaniyah Oktober 31, 2010 pukul 1:44 pm Reply

      Subhanallah.. Makasih pak sawali..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: