Membangun Anak Gemar Belajar

Belajar menurut kamus bahasa adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau  potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar juga merupakan  akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.  Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

……………………………………………….

..Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru atau pengajar kepada murid, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.

…………

Setiap orang pasti melalui phase yang namanya belajar, sejak dulu orang tua telah mengenalkan kegiatan belajar pada anak anaknya. Saat anak anaknya masih bayi misalnya, orang tua telah mengenalkan anaknya pada suara atau bunyi bunyian, memperkenalkan warna, lalu berkembang lagi dengan mengajarkan merangkak, duduk, berdiri dan berjalan. Semua itu adalah proses dan pengenalan belajar yang dilakukan oleh orang tua.

……………….

Bagi anak anak kata “belajar” adalah kata kata yang seringkali dihindari, dijauhi bahkan dimusuhi. Hal yang tak bisa dipungkiri karena banyak anak yang mengalami demikian. Bagi sebagian anak yang namanya belajar adalah hal yang menakutkan, menyeramkan. Mengapa demikian..? karena belajar seringkali diasosiasikan oleh si anak dengan pengalaman dimarahi atau dipukul, oleh karena itu pastilah jika anak anak selalu ingin menghindari sejauh mungkin dengan yang namanya belajar. Untuk itu sebagai orang tua hendaknya menciptakan suasana dan pengalaman belajar yang menyenangkan buat anaknya.

……………..

Pada prinsipnya membentuk anak senang belajar lebih penting daripada mendorong anak untuk memiliki prestasi yang tinggi. Anak anak yang belajarnya secara terpaksa walaupun memiliki prestasi tinggi, biasanya tidak akan bertahan lama dibandingkan anak anak yang senang belajar. Anak anak yang merasa senang belajar akan sanggup mengembangkan dirinya sendiri tanpa harus dipaksa paksa.

……………….

Lalu dengan cara yang bagaimanakah agar kegiatan belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak anak sekaligus menjadikan motivasi..? Saya mencoba untuk mengeksplor kemampuan berpikir saya untuk mengembangkan cara cara yang bisa dilakukan oleh para orang tua dalam memotivasi belajar bagi anak anaknya, diantaranya adalah :

1. Berikanlah teladan yang baik.

Anak anak perlu cermin atau teladan akan perilaku yang mereka tiru. Ajaklah anak belajar dengan memberi support dengan menanyakan tingkat kesulitannya dimana, kendalanya apa. Lalu ajak anak berdiskusi dengan Tanya jawab atas apa yang telah dipelajari di sekolahnya hari ini misalnya.

……………….

Tunjukkan sikap positif dan supportif

Penting bagi orang tua untuk tidak selalu mengeluh atau mengkritik serta memarahi anak dalam kegiatan belajar. Dengan dimarahi, anak akan sulit menangkap materi pelajaran dan penjelasan dari orang tuanya. Berikan appresiasi terhadap anak ketika si anak mampu mengerjakan PR misalnya. Dengan demikian anak merasa termotivasi dan di hargai oleh orang tuanya sehingga si anak memiliki nilai positif terhadap orang tua.

………………

3. Bantu anak untuk memilih waktu belajar yang tepat

Usahakan jangan meminta anak untuk belajar kalau kondisinya sedang capek, ngantuk atau kondisi anak sedang marah marah. Kondisi phisik yang lemah dan emosi yang meninggi akan menyulitkan anak untuk konsentrasi. Begitu juga saat anak baru pulang sekolah atau sehabis bermain, jangan langsung meminta si anak langsung belajar. Anak anak pun perlu waktu untuk menyesuaikan tubuhnya, matanya serta hatinya untuk bisa masuk dalam kondisi belajar. Kondisi setelah mandi atau istirahat/tidur siang adalah menjadi pilihan waktu yang tepat untuk si anak. Namun demikian, masing masing anak tidak sama antara satu dengan yang lainnya, oleh karena itu carilah waktu yang cocok untuk kegiatan belajar si anak.

……………….

4. Ciptakan suasana yang menyenangkan

Menurut beberapa informasi dan sharing dari sahabat yang notabene bekerja sebagai guru bahwa otak akan bekerja optimal apabila berada dalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan. Oleh karena itu ciptakanlah kondisi ruangan, tempat belajar yang nyaman untuk kegiatan belajar si anak. Yang tak kalah penting adalah berikan penerangan yang cukup ketika proses kegiatan belajar berlangsung. Penerangan cukup dimaksud adalah lampu usahakan tidak redup.

………………………..

5. Kenali gaya belajar si anak.

Dengan mengenal gaya belajar anak, maka orang tua akan tau gaya belajar seperti apakah yang disukai si anak..? Apakah gaya AUDITORI yaitu belajar dengan cara mendengarkan, atau lebih memilih gaya VISUAL yaitu belajar dengan cara melihat ataukah dengan gaya KINESTETIK yaitu belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Gaya belajar Kinestetik ini biasanya si anak sulit untuk duduk diam berjam-jam karena si anak selalu ingin beraktifitas dan eksplorasidirinya. Yang perlu diingat oleh orang tua adalah jangan pernah memaksakan anak untuk belajar diluar dari ke-unikan gaya belajarnya, karena jika dipaksakan maka si anak akan culit mencerna bahan pelajarannya.

.. ………………

6. Berikan jeda waktu

Jeda waktu sangat penting dalan kegiatan belajar bagi si anak, berikan jeda waktu pada si anak setidaknya setelah dia belajar selama 30 menit. Karena biasanya anak anak sanggup berkonsentrasi penuh selama 30 menit daripada terus menerus selama satu jam tanpa istirahat. Setela istirahat 2 sampai 3 menit maka konsentrasi anak anak akan muncul kembali. Sebab jika dipaksa belajar tanpa jeda waktu, anak anak akan merasakan jenuh dan daya konsentrasinya pun akan menurun.

………………….

7. Bantu anak anak untuk mendapatkan rasa keberhasilan

Dalam kegiatan belajar, anak anak pun perlu merasa berhasil dalam melakukan tugas tugasnya, karena dengan merasa berhasil maka anak anak akan terus termotivasi untuk terus belajar tanpa harus di minta atau disuruh. Caranya tak terlalu sulit untuk membantu anak dalam mendapatkan rasa keberhasilan. Contoh sederhananya adalah : Ketika orang tua mendapingi anak dalam kegiatan belajar, mintalah pada anak untuk mengerjakan soal soal nya terlebih dahulu. Dengan sendirinya anak anak akan merasa termotivasi untuk mengerjakan soal atau tugas berikutnya karena merasa dirinya berhasil . Lalu bagaimana dengan soal soal yang dirasakan sulit..? Pada prinsipnya sama, bantu anak anak memiliki pengalaman berhasil menyelesaikan soal soal yang sulit. Satu kali dua kali tiga jail dan seterusnya, apabila telah beberapa kali si anak berhasil melakukannya maka mempresepsikan bahwa dirinya sanggup menyelesaikan soal yang sulit sekalipun. Sehingga muncul rasa bangga dalam diri anak karena dapat mengerti dan paham akan apa yang telah dipelajari.

…………….

Meski kegiatan  belajar anak  secara umum adalah tanggung jawab guru di sekolahnya, namun peranan orang tua dalam kegiatan belajar di rumahpun memiliki tanggung jawab yang tak kalah pentingnya, sehingga terwujud sinergi bagi anak anak.  Proses belajar tak akan selesai atau hanya terbatas  pada bangku sekolah saja, tetapi yang namanya belajar akan terus kerkesinambungan.

Sumber : Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: