Mewujudkan Pendidikan Karakter Harus Istiqomah

Saat ini banyak kalangan pendidik dan masyarakat membicarakan tentang pendidikan karakter. Bahkan pada pertemuan Rembug Nasional Pendidikan tahun 2010, Mendiknas menyampaikan beberapa paradigma diantaranya pentingnya pendidikan yang komprehensif atau holistik. Pendidikan harus mampu mengekplorasi seluruh potensi anak, baik kekuatan batin, karakter, intelektual, dan fisik. Pak Menteri menekankan pada pendidikan karakter perlu mendapatkan perhatian khusus, mulai dari jenjang pra sekolah sampai ke perguruan tinggi.

Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kepribadian, akhlak mulia,, dan budi pekerti sehingga karakter ini terbentuk dan menjadi ciri khas peserta didik tersebut.

Banyak rumusan tentang karakter dasar individu yang menjadi pilar perilaku seperti Indonesia Heritage Fondation merumuskan 9 karakter yaitu; 1) Cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, 2) tanggung jawab, disiplin, dan mandiri, 3) jujur, 4) hormat dan santun, 5) kasih sayang, peduli, dan kerjasama, 6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, 7) keadilan dan kepemimpinan, 8) baik dan rendah hati, 9) toleransi. Sedangkan Charakter Counts di Amerika mengidentifikasi karakter yang pilar adalah, 1) dapat dipercaya (trustworthiness), 2) rasa hormat dan perhatian (respect), 3) tanggung jawab (responsibility), 4) jujur (fairness), 5) peduli (caring), 6) kewarganegaraan (citizenship), 7) ketulusan (honesty), berani (courage), 8) tekun (diligence) dan 9) integritas. Dari rumusan tersebut sekolah cukup menauladani akhlak Rosulullah untuk mewujudkan generasi yang berkarakter. Rasulullah SAW bersabda, “”innama bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq” Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. (HR Malik)

Mengapa sekolah harus istiqomah dalam pendidikan karakter? Salah satu jawabannya adalah sekolah merupakan tempat yang sangat strategis dalam pembinaan karakter ini, bahkan nomor dua setelah keluarga. Pendidikan karakter di sekolah sulit berhasil selama antara lingkungan pendidikan siswa baik di rumah, di sekolah atau di sekitarnya tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Karena dalam membentuk siswa atau anak yang berkarakter tidak semudah memberi nasihat atau perintah, tapi diperlukan mujahadah dan kesabaran yang tinggi dalam melatihkan dan membiasakan perilaku yang baik. Menurut W. Kilpatrick (dalam karakterbangkit.blogspot dan krisnamukti.net:2009) menyebutkan salah satu penyebab ketidak mampuan seseorang berperilaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang perilaku itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Sehingga kita perlu banyak melatihkan dan membiasakan perilaku yang terpuji di sekolah, kemudian orang tua menindaklanjuti kebisaan terpuji tersebut di rumah.

Wujud pendidikan karakter di sekolah selain melalui pembelajaran akhlak dan integrasi nilai-nilai Islam pada semua mata pelajaran, juga dilakukan kegiatan pembiasaan di sekolah antara lain salat jamaah, makan bersama, dan disiplin diri. Kegiatan pembiasaan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran dan pelatihan yang dilakukan sekolah. Dukungan orang tua di rumah sangat berperan dalam keberhasilan pendidikan karakter ini, sehingga selain sekolah yang harus istiqomah dalam pembentukan karakter ini, orang tua pun harus istiqomah dalam menindaklanjuti program-program sekolah. Tanpa peran orang tua pendidikan karakter hanya wacana belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: