Cerpen : Melepasmu ke Pesantren

Bismilah

Tulisan pertama saya di blog ini, dari pada bingung harus nulis apa, aku putuskan menulis pengalaman pertamaku saat anak berangkat mondok. Mudah –mudahan bisa menjadi referensi bagi orang tua yang sedang galau,,

Tiap malam setelah semua menyelesaikan tugas masing – masing kebiasaan kami adalah ngobrol santai, ngobrol ngalor ngidul, curhat, sepele dan remeh tidak penting, tapi selalu kami rindukan. Kalau kata orang family time lah,, si sulung Azka disela cerita – ceritanya mengungkapkan keinginannya selepas MI.

“ Bun, aku nanti mondok ya,, setelah MI “ ujarnya.

“ O yah,,,? Bener ? Serius ?” aku agak terkejut.

“ Iya, serius “ jawabnya sambil tiduran santai.

“ Yaaa,,, nanti kita bicarakan lagi, masih tahun depan kan” jawabku.

Memang saat itu Azka masih baru naik kelas lima. Tapi tak dapat dipungkiri ada rasa sriiing dihati, khawatir, tidak tega, dan rasa semacam itulah seperti layaknya seorang ibu. kulirik si Ayah Cuma manggut- manggut aja sambil mukanya bercahaya terkena lampu hp. Kusikut sedikit tubuhnya,

“Heh,, apa ? halah masih kelas lima, tahun depan belum tentu sama“ katanya. Biasa laki – laki pikirannya terlalu simple. Sedangkan aku, sejak saat itu aku mulai bersiap – siap, menyiapkan diri dan Azka tentunya, secara fisik dan mental. Sebelumnya memang aku sudah terkenal “kejam” dan sekarang, lebih kejam lagi ha ha ha ha,,, (tertawa ngakak kayak mak lampir)

Tugasnya aku tambah, yang biasanya cuci baju pakai mesin cuci, sekarang harus pakai tangan, cuci piring juga aku tambah panci, wajan, ember, bersih – bersih rumah yang biasanya ala kadarnya, sekarang aku cek, pun dengan setrika, menata baju, dan lain –lain. Pokoknya semua harus bisa mandiri. Iya kalo dia berubah pikiran kalo tidak? Ya persiapan gitu.

Satu tahun berlalu dan keputusaanya tetap ingin mondok. Aku sih sudah menduga, lha wong ayah bundanya keras kepala, ya anaknya pasti samalah,,

“ Ya bun,, aku mondok ya,, “ rengeknya.

“ Nanti gak ketemu bunda ayah lho gimana uda siap “

“ Kan disambang “

“ Kalo nggak kerasan gak boleh pindah – pindah lo ya,,, “ ancamku.

“Kerasanlah,, ada mbak Cisa juga kok “ imbuhnya.

Cisa adalah teman sekelasnya, ibunya teman kuliahku. Beberapa hari yang lalu mama cisa memang sudah memprovokasiku supaya mengijinkan Azka mondok, supaya anaknya ada temennya. Oke sekarang harus lebih serus. Rapat pleno antara aku, suamiku dan mama Cisa berlangsung saat menjemput Cisa pulang sekolah. Pilih –pilih, browsing, debat seru, kekurangannya, kelebihannya, biayanya,, dan,, akhirnya diputuskan tempat yang kami pilih adalah pondok Lirboyo Kediri.

Langkah selanjutnya cari info pendaftaran, persiapan administrasi, dan berangkat daftar. Pendaftaran lancar, pembayaran dan lain – lain. Sebenarnya sebelum pendaftaran dipersilahkan untuk observasi tempat nginapnya, sekolahnya, dan kegiatannya. Aku tidak tahu banyak tentang pondok. Bismillah, yakin saja niat baik pasti akan selalu dimudahkan.

Setelah pendaftaran masih ada waktu sekitar satu minggu untuk boyong. Untuk memantapan, waktu digunakan untuk les bahasa Arab dan belajar membaca kitab yang tulisannya Arab gundul. Juga untuk persiapan barang – barang yang dibawa, baju tidak boleh lebih dari enam setel, daleman, peralatan mandi, peralatan cuci, peralatan ibadah, peralatan sekolah, obat – obatan dan pernak pernik yang lain. Semuanya Azka sendiri yang menyiapkan. Aku hanya membantu sedikit – sedikit saja, biar lebih mandiri.

Waktu satu minggu terasa lebih cepat dari biasa. Besok waktunya berangkat. Malam ini aku dan suami sama – sama tidak bisa tidur. Sepertinya kami sama – sama gelisah. Nonton TV pun hanya sambil lalu saja. Bergantian kami bercerita mengulang masa lalu.

Pertama kali aku ke kota kecil ini, aku sedang hamil Azka 9 bulan, seminggu kemudian melahirkan disini juga. Karena belum punya rumah sendiri, Azka kecil selalu ikut pindah – pindah. Dari kos di kamar bekas orang bunuh diri di Surabaya , rumah bambu ala mak lampir, sampai rumah besar berhantu yang 7 tahun tak berpenghuni. Setiap kali pindah ke tempat baru Azka kecil selalu peka, tantrum tanpa sebab, sampai berkomunikasi dengan “ Pak Dhe “, sebutannya bagi mahluk tak kasat mata yang kerap kali menyapa kami. Azka kecil juga sering menjadi sasaran luapan emosi kami, saat emosi masih sama – sama labil, keadaan ekonomi masih sangat terpuruk. Ya Allah ,, rasanya ingin kucegah kepergiannya besok. Ma’afkan bunda dan ayah nak. Kami berdua mellow malam itu. Perlahan kuusap rambutnya,, kucium keningnya.

Dijemput orang tua Cisa, kami berangkat sekitar pukul sembilan pagi. Sepanjang perjalanan kami bercanda, ngobrol, dan sedikit memberi wejangan – wejangan dipondok nanti.  Mobil yang kami tumpangi perlahan memasuki kota Kediri, melewati jembatan yang bercat putih, dan sekitar dua jam kamipun sampai. Menuju kantor untuk menyelesaikan administrasi, pendaftaran boyong masuk dan pemeriksaan barang bawaan. Membantu membawa barang – barang ke kamar, yang menurutku terlalu sempit untuk 35 orang, makanpun hanya dua kali, dengan tiga nampan tiap kamar. Berarti satu nampan untuk 12 orang. Mak tratap,, semendal rasanya, bisakah dia bertahan?

Setelah semua selesai, inilah saat yang paling mendebarkan. Melepasmu disini. Dia menangis dalam pelukanku, kubiarkan saja, sampai dia melepas pelukannya sendiri. Aku tetap memberi semangat, mencoba tegar, meski sesekali mengusap air di ujung mata yang tak kuasa ku tahan. Karena laki – laki tidak boleh masuk, jadi hanya aku yang mengantar. Ayah menunggu diluar, dihalaman pondok.

Sepanjang perjalanan pulang kami lebih banyak diam. Tampak mama Cisa sesekali menyeka air mata dengan ujung jilbabnya. Memandang pemandangan dari Kediri ke Jombang dari luar jendela mobil yang tiba – tiba terasa mengharukan. Ya Allah, kuatkan kami dan putri kami. Biarlah dia belajar lebih dekat denganMu, lebih mudah mempelajari ilmuMu, berdamai dengan kekurangan dan keterbatasan. Sehingga kelak saat dewasa, ketika kesuksesan kau raih, kau lebih peka dengan lingkungan di sekitarmu karena kau pernah merasakan. Mengutip dari kata – kata seorang imam besar, jika kita tidak bersusah payah, lelah, berderai air mata untuk mencari ilmu sekarang, maka kelak kita akan bersusah payah, lelah dan berderai air mata karena kebodohan.

Next or stop ?

Alwathaniyah September 17, 2019 saat ekstra sains.

Penulis : Ita Budiarti, S.Pd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.